Minggu, 23 April 2017

fisiologi ternak



PERBANDINGAN UKURAN, PERSENTASE, FUNGSI DAN KARAKTERISTIK ANTARA KINERJA MASING MASING  FISIOLOGIS SALURAN PENCERNAAN RUMINANSIA, PSEUDORUMINANSIA DAN MONOGASTRIK
Suparti1) dan Agus Darmawan2)
1Mahasiswa Program Studi S1 Peternakan
Email: Partysuparti@gmail.com
2Asisten Laboratorium Fisiologi dan Biokimia
Email: Agusdarmawan1995@gmail.com
Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang
Received : ............. ; revised : ............. ; accepted .............

Abstrak

Pencernaan adalah penguraian bahan makanan yang kompleks menjadi bahan sederhana dalam saluran pencernaan untuk dapat diserap dan diedarkan ke tubuh. Saluran pencernaan pada  hewan memiliki perbedaan sesuai dengan jenis maupun organ yang terlibat didalamnya. Praktikum ini bertujuan mengetahui sistem digesti, fungsi organ-organ  dan mengetahui perbedaan panjang serta persentase antara masing masing organ pencernaan pada saluran pencernaan ruminansia, pseudoruminansia, dan monogastrik.  Metode yang di gunakan yaitu dengan membedah Saluran pencernaan pada kelinci dan ayam, sedangkan kambing langsung menggunakan awetan. Pembedahan di lakukan dengan menggunakan pisau dan gunting, lalu di ambil saluran pencernaan dan diukur panjang masing masing organ. Hasil praktikum didapatkan hasil bahwa saluran pencernaan ruminansia terdiri dari mulut, esofagus, rumen, retikulum, omasum, abomasum, usus halus, sekum, usus besar, dan anus. Saluran pencernaan pada ruminansia memiliki panjang total 1360. Saluran pencernaan pseudoruminansia terdiri dari mulut, esofagus, tembolok, proventikulus, gizzard, usus halus, seka, dan kloaka. Saluran pencernaan ternak pseudoruminansia memiliki total panjang 442. Saluran pencernaan monogastrik terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus halus, sekum, usus besar, dan anus. Panjang pada saluran pencernaan ternak monogatrik  yaitu 254 cm. Saluran pencernaan ternak dihitung  dengan persentase 100 %.
Kata kunci: ukuran, fungsi, ruminansia, pseudoruminansia, monogatrik



PENDAHULUAN

Pencernaan merupakan serangkaian proses untuk memecah bahan makanan yang berupa senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana hingga dapat diabsorpsi lalu di edarkan ke seluruh tubuh.  Saluran pencernaan merupakan proses penghubungkan antara dunia luar dan  dunia dalam dengan organ pencernaan sebagai proses metabolik (Suprijatna et al. 2005). Hewan ruminansia umumnya pemakan tanaman atau herbivora, sehingga sebagian besar makanannya berserat kasar seperti selulose, hemiselulose dan bahkan lignin. Saluran pencernaan ruminansia dimulai dari esofagus, rumen, retikulum, omasum, obomasum, usus halus, usus besar, sekum, kolon, anus (Isnaeni, 2006).
Saluran pseudoruminansia dimulai dari esofagus, lambung, usus kecil, usus besar, sekum dan kolon (Parakkasi, 1986). Fungsi masing - masing saluran pencernaan berbeda - beda dan karekteristik setiap organ tidak sama.
Saluran pencernaan pada monogastrik di mulai dari  esofagus, tembolok, proventikuus (perut kelenjar), duodenum, ileum, seka kanan dan seka kiri, usus besar, dan berakhir di kloaka (Akoso, 1998). Sistem pencernaan monogatrik berbeda dengan sistem pencernaan ternak mamalia atau ternak ruminansia, karena pada monogastik  tidak memiliki gigi untuk melumat makanan. Hewan monogatrik menimbun makanan yang dimakan di dalam tembolok. Praktikum sistem digesti bertujuan untuk mengetahui saluran sistem pencernaan, fungsi, ukuran dan karakteristik saluran pencernaan ruminansia, pseudaruminansia, dan monogastrik. Manfaat yang dapat menambah ilmu dasar mengenai sistem digesti dan dapat di  terapkan dalam dunia pekerjaan serta dalam kehidupan sehari – hari.
METODE PRAKTIKUM
Praktikum anatomi organ digesti dilakukan di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia, Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang. Tanggal 08 April 2015 pukul 14.00 – 16.00.
Materi praktikum anatomi organ digesti menggunakan bahan meliputi saluran pencernaan ternak monogastrik (unggas), ruminansia (awetan), pseudoruminansia (kelinci), dan formalin. Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu pisau bedah, pita ukur, masker, sarung tangan, dan alat tulis.
Prosedur kerja dibagi menjadi dua yaitu dengan menggunakan awetan dan baru. Prosedur kerja untuk awetan meliputi: mengambil organ awetan kambing dari tempat sebelumnya dan diletakkan di meja, menyusun bagian organ saluran pencernaan kambing dengan rapi, mengukur panjang dan persentase  masing-masing organ. Prosedur kerja untuk baru (kelinci dan unggas) meliputi memotong vena jugularis untuk mengeluarkan darahnya sampai tuntas, membedah hewan yang telah dipotong. Mengukur panjang dan persentase untuk tiap - tiap organ saluran pencernaan.
Variabel yang diamati dalam praktikum anatomi organ digesti  yaitu pengukuran panjang persentase pada masing masing organ saluran pencernaan. Penghitungan panjang  dan persentase ternak ruminansia, monogatrik dan pseudoruminansia yaitu :

PO =   Panjang perorgan  x 100%
               Panjang organ


HASIL DAN PEMBAHASAN

Kinerja Saluran Pencernaan Ruminansia
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada organ pencernaan ruminansia maka diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 1. Data Saluran Pencernaan Ruminansia


Organ Pencernaan
Panjang
(cm)
Persentase (%)
Organ Pencernaan Utuh
1360
100
Esofagus
32
2.35

Rumen
22
1.62
Retikulum
10
0.74
Omasum
7
0.51
Abomasum
22
1.62
Usus  Halus
965
70.96
Sekum
20
1.47
Usus Besar
253
18.6
Kolon
22
1.62
Anus
7
0.51

           
Berdasarkan hasil praktikum dapat di ketahui bahwa saluran pencernaan ruminansia dimulai dari mulut yang berguna untuk mengambil makanan dan menguyah secara mekanik sebelum makanan masuk ke esofagus. Esofagus (kerongkongan) merupakan saluran penghubung dari mulut menujuke rumen. Esofagus pada ruminansia memiliki ukuran sangat pendek dan  membesar pada saat makanan memasuki esofagus.   Menurut Akosa (1998) bahwa bentuk esofagus seperti corong yang terletak di antara mulut dengan rumen, untuk selanjutnya saluran akan memasuki lambung untuk memproses makanan. Esofagus yang mempunyai panjang 32 cm dengan persentase 2.35 %. Lambung pada saluran pencernaann ruminansia mempunyai empat ruang yaitu rumen, retikulum, omasum, obomasum. Lambung berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan yang telah di cerna oleh ternak tersebut dan mencerna protein. Menurut Isnaeni (2006) bahwa fungsi dari lambung sebagai tempat penyimpanan makanan yang dicerna oleh ternak sebagiandengan waktu tertentu dan mencerna protein dengan menyekresikan enzim protease. Perbandingan antara kapasitas lambung dengan bagian lain berkisaran 8 - 15 liter. Menurut pendapat Parakkasi (1986) bahwa kapasitas lambung berkisaran 10 - 12 % atau antara 8 - 15 liter dari dari seluruh kapasitas alat pencernaan.
Rumen merupakan bagian saluran pencernaan pada ternak ruminansia dimana terjadi pencernaan secara fermentatif dan pencernaan secara hidrolitik. Rumen mampu menghasilkan zat - zat gizi yang di butuhkan tubuh. Menurut Sodiq dan Abidin (2008) bahwa rumen tidak bergantung pada kadar zat zat gizi pakan karena rumen mampu menghasilkan zat zat gizi  yang dibutuhkan tubuhnya. Karakteristik rumen yaitu  babat yang tonjolannya seperti bulu dan memiliki panjang 22 cm, ini merupakan panjang rumen yang kurang normal karena panjang rumen yang normal berkisaran 23 cm sampai 29 cm. Menurut pendapat  Soebarinoto et al. (1991) bahwa rumen pada ternak ruminansia normal berkisaran 23 sampai 29 cm. Retikulum merupakan  perut jala atau hardware stomach. Fungsi retikulum adalah sebagai penahan pakan pada saat regurgitasi rumen. Retikulum berbatasan langsung dengan rumen, akan tetapi diantara keduanya tidak ada dinding penyekat. Retikulum mempunyai panjang 10 cm dengan persentase 0.74 %. Pengamatan ini termasuk dalam kaadaan normal. Menurut pendapat Soebarinoto et al. (1991) bahwa panjang retikum normal berkisaran 8 - 11 cm.
Omasum mempunyai panjang 7 cm dengan persentase 0.51 %. Panjang ini termasuk dalam keadaan normal. Hal ini sesuai pendapat Soebarinoto et al. (1991) bahwa panjang omasum berkisaran 5 sampai 8 cm. Usus halus  terbagi menjadi  tiga bagian yaitu duodenum, jejenum, ileum. Hal ini sesuai pendapat Soebarinoto et al. (1991) bahwa anatomi usus halus di bagi menjadi 3 yaitu duodenum yang berhubungan dengan obomasum, jejenum berada dibagian tengan dan ileum berhubungan dengan usus besar.
Abomasum adalah bagian lambung yang memanjang yang dapat mensekresikan cairan lambung oleh sel - sel abomasum. Menurut Soebarinoto et al. (1991) bahwa abomasum merupakan bagian lambung yang dapat memanjang, terletak di dasar rongga perut. Abomasum merupakan tempat permulaan dari proses pencernaan secara enzimatik. Abomasum mempunyai panjang 22 cm dengan persentase 1.62 %. Panjang Abomasum termasuk dalam keadaan normal. Usus halus mempunyai panjang 965 cm dengan persentase 70.96 %. Usus besar merupakan kelanjutan dari usus kecil yang terdiri atas sekum, kolon, serta berakhir di ujung luar anus. Menurut Akoso (1996) bahwa usus besar terdiri dari sekum, kolon dan berakhir di anus. Usus besar pada ternak ruminasia 253 cm dengan persentase 18.6 %. Fungsi usus besar adalah tempat penampungan makanan dalam jumlah banyak. Menurut Sihombing (1997) bahwa fungsi dari usus besar yaitu untuk menampung berbagai jenis makanan yang dapat di cerna maupun tidak tercerna serta untuk pembusukan yang menghasilkan berbagai jenis gas. Kolon merupakan tabung berstruktur sederhana yang di gunakan fermentasi mikroba. Menurut pendapat  Soebarinoto et al. (1991) bahwa sekum merupakan tempat fermentasi oleh mikroba. Kondisi ini sekum secara umum tidak berbeda dengan kondisi di dalam rumen. Sekum mempunyai panjang 20 cm dengan persentase 1.47 %.  Kolon mempunyai panjang 22 cm dengan persentase 1.62 %. Panjang ini termasuk dalam berkisaran normal. menurut Parakkasi (1986) bahwa panjang rata rata kolon berkisar 20 - 25 cm dengan kapasitas volume air 2 kali volume sekum. Anus adalah tempat terakhir pembuangan sisa-sisa pencernaan yang tidak diperlukan oleh tubuh lagi yang berupa fases. Menurut pendapat Yuwanta (2008) bahwa anus merupakan tempat berakhirnya sisa makanan yang tidak dapat di proses lagi, hasilnya berupa fases. Panjang anus pada ternak ruminansia yaitu 7 cm, ini merupakan keadaan yang normal untuk ukuran anusruminansia. Menurut pendapat Soebarinoto et al. (1991) bahwa ukuran normal anus pada ruminansia berkisaran 6 - 9 cm.

Kinerja Saluran Pencernaan Pseudoruminansia
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada organ pencernaan pseudoruminansia maka diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 2. Data Saluran Pencernaan Pseudoruminansia


Organ Pencernaan
Panjang
(cm)
Persentase (%)
Organ Pencernaan Utuh
442
100
Esofagus
11
2.49


Lambung
13
2.59
Usus halus
273
61.76
Sekum
45
10.18
Usus besar
72
16.29
Kolon
23
5.20
Anus
5
1.13

Berdasarkan pengamatan yang di lakukan saluran pencernaan pada kelinci di mulai dari mulut, esofagus, lambung, usus halus, usus besar, sekum, kolon dan anus. Panjang untuk masing - masing organ berbeda dan memiliki karakteristik sendiri. Panjang esofagus yaitu 11 cm dengan persentase 2.49 %, lambung memiliki panjang 13 cm dengan persentase 2.59 %. Panjang usus besar yaitu 72 cm dengan persentase 16.29 %. Panjang sekum 45 cm dengan persentase 10.48  % dan kolon memiliki panjang 23 cm dengan persentase 5.20 %. Anus mempunyai panjang 5 cm dengan persentase 1.13 %.
  Lambung  merupakan saluran yang di gunakan untuk memprosen makanan secara kimiawi. Menurut Muwarni (2009) bahwa fungsi dari lambung yaitu untuk tempat pencernaan makanan secara kimiawi agar dapat di serat dan diedarkan ke jaringan tubuh. Lambung mempunyai 1 lambung yang digunakan untuk mencerna makanan. Lambung ini hanya berfungsi untuk menyimpan makan sebelum masuk ke usus halus. Menurut Priyatna (2011) bahwa fungsi lambung ini hanya berfungsi untuk menyimpan dan sterilisasi makanan sebelum masuk ke usus halus dan fermentasi hanya terdapat di caecum yakni pada usus besar. Usus halus pada ternak pseudoruminansia memiliki panjang usus halus yaitu 273 dengan persentase 61.76 %. Menurut Parakksi (1986) bahwa usus halus pada pseudoruminansia berkisar normal lebih kurang 220 m.
Sekum dan kolon pseudoruminansia mempunyai fungsi sama dengan rumen pada ternak ruminansia. Organ saluran pencernaan pada pseudoruminan dapat berfungsi sebagai tempat untuk penyerapan air sebelum masuk ke anus. Menurut Parakksi (1986) bahwa fungsi dari sekum yaitu penyerapan air sebelum masuk ke anus yang kemudian masuk ke usus besar. Makanan akan di proses menjadi fases yang akan di keluarkan melalui anus. Sekum mempunyai fungsi mengolah makanan dari yang dimakan oleh ternak sebelum di alirkan ke seluruh tubuh. Menurut Priyatna (2011) bahwa sekum dapat menghasilkan sisa makanan yang berasal dari usus besar dan memproses kembali dan diedarkan ke jaringan tubuh.
 Usus besar pada pseudoruminansia dapat memproses fermentasi yang cukup lama. Menurut Priyatna (2011) bahwa fermentasi akan terjadi di usus besar dan fermentasi di rektum hanya memiliki daya cerna yang rendah.       Fermentasi yang di lakukan pada usus besar hanya mencapai 50 % dari kapasitas saluran cerna. Kolon merupakan tempat terjadinya penyerapan air oleh bahan makanan. Fungsi utama kolon yaitu untuk mereklamasikan cairan yang berlebihan kemudian di kembalikan ke badan berupa bahan makanan yang sukar  atau tidak dapat dicerna dan tersimpan selama 36 – 72 jam. Menurut Muswarni dan Rohman (2014) bahwa kolon mempunyai fungsi untuk menyerap cairan kembali yang masih berguna dan tersimpan selama 36 – 72 jm dan sisanya akan masuk ke anus. Anus merupakan tempat keluarnya sisa-sisa makanan yang tidak dapat di proses lagi di saluran pencernaan berupa fases. Menurut Cambell et al. (2004) bahwa anus merupakan tempat terakhir diamana sisa-sisa makanan tidak dapat di proses kembali hasilnya berupa fases.

Kinerja Saluran Pencernaan Monogastrik

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada organ pencernaan monograstrik maka diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 3. Data Saluran Pencernaan Monogastrik


Organ Pencernaan
Panjang
(cm)
Persentase (%)
Organ Pencernaan Utuh
254
100
Esofagus
13
5.1
Tembolok
9
3.5
Proventrikulus
4
1.6
Gizzard
6
2.4
Duodenum
14
5.5
Jejenum
85
33.5
Ileum
72
28.3
Seka kiri
19
7.5
Seka kanan
19
7.5
Usus besar
9
3.5
Kloaka
4
1.6

Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa saluran pencernaan pada monogastrik terdiri dari esofagus yang mempunyai panjang 13 cm dengan persentase 5.1 %, tembolok memiliki panjang 9 cm dengan persentase 3.5 %, proventrikulus memiliki panjang 4 cm dengan persentase 1.6 %, gizzard memiliki panjang 6 cm dengan persentase 2.4 %, duedenum memiliki panjang 14 cm dengan persentase 5.5 %, jejenum memiliki panjang 85 dengan persentase 33.5 %, ileum memiliki panjang 72 cm dengan persentase 28.3 %, sekum kanan sekum kiri memiliki pangang 19 cm dengan persentase 7.5 %, usus besar memiliki panjang 9 cm dengan persentase 3.5 %, kloaka memiliki panjang 4 cm dengan persentase 1.6 %. Hal ini sesuai dengan pendapat Akoso (1998) yang menyatakan bahwa saluran pencernaan terdiri dari esofagus, tembolok, proventikuus (perut kelenjar), duodenum, ileum, sekum kanan dan sekum kiri, usus besar, dan kloaka. Saluran pencernaan monogastrik memiliki fungsi yang berbeda antara organ satu dengan yang lain. Saluran monogatrik akan saling berhubungan untuk memproses makanan. Hal ini sesuai dengan pendapat Yuwanta (2004) yang menyatakan saluran pencernaan dari esofagus sampai ke kloka memiliki perbedaan fungsi masing - masing.
Esofagus adalah saluran pencernaan yang menghubungkan dari mulut menuju ke proventikulus atau lambung. Esofagus terdapat sepanjang daerah leher dan rongga dada. Menurut Suprijatna et al. (2005) bahwa esofagus atau kerongkongan berbentuk pipa tempat pakan dari sluran belakang mulut belakang ke proventikulus. Hasil pengamatan di dapatkan panjang 13 cm  dengan persentase  5.1 %. Keadaan ini merupakan ukuran yang kurang normal karena keadaan normal sebuah esofagus yaitu 20 cm. Menurut Rizal (2006) bahwa panjang esofagus dari faring ke tembolok adalah 20 cm.
Tembolok adalah modifikasi dari esofagus yang berbentuk kantong lebar yang menghubungkan esofagus menuju proventikulus.  Hal ini sesuai dengan pendapat Kartadisastra (1994) bahwa tembolok adalah bagian kerongkongan yang membesar yang dindingnya di selimuti lendir yang fungsinya untuk membasahi pakan. Makanan yang masuk dari esofagus akan di salurkan menuju tembolok untuk di proses dari makanan yang kasar akan di perhalus sementara sebelum masuk ke proventrikulus. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyaf (2008) bahwa fungsi dari tembolok adalah  tempat yang untuk menampung makanan dalam bentuk makanan kasar, biji – bijian yang akan di haluskan dan diubah menjadi asam. Hasil pengamatan bahwa tembolok mempunyai panjang 9 cm dengan persentase 3.5 %, ini merupakan normal untuk ukuran tembolak. Tembolok yang nornal berkisaran 7 sampai 10 cm. Menurut Fadillah (2013) bahwa umur, jenis pakan dan bangsa mempengaruhi panjang tembolok.
Proventrikulus merupakan penebalan pelebaran dari ujung akhir kerongkongan atau esofagus berfungsi untuk membantu proses mencerna protein. Menurut Rasyaf (2008) bahwa proventrikulus merupakan bagian ujung kerongkongan yang membesar dan menghasilkan enzim  pemecah protein (pepsin). Pengukuran proventrikulus di dapatkan hasil panjang 4 cm. Panjang proventrikulus pada ayam ini kurang normal. Menurut Mahmilia (1997) yang di sitasi Noferdiman (2012) bahwa rata-rata  proventrikulus relatif berkisaran antara 0.50 - 0.53 %.
Gizzard merupakan kepanjangan dari proventrikulus yang memiliki dinding yang kuat, kenyal dan keras dimana ezim pepsin bekerja. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyaf (2008) bahwa gizzard merupakan tempat dimana pakan di kunyah yang memiliki dinding yang kuat dan keras dilengkapi dengan bahan keras sebagai gigi, dimana enzim pepsin  membantu dalam pengunyahan. Karakteristik dari ampela atau gizzard yaitu memiliki otot yang kuat dan tebal yang dapat memecah makanan menjadi bagian yang lebih kecil. Menurut pendapat Kartadisastra (1994) bahwa ampela atau gizzard memiliki permukaan yang tebal dan otot kuat yang berfungsi sebagai pemecah makanan memjadi kecil. Panjang dari pengukuran gizzard ini yaitu 6 cm. Panjang gizzard ini masih berkisaran normal untuk gizzard. Menurut Yaman (2010)  bahwa gizzard memiliki panjang berkisaran  5 sampai 7,5 cm.
Deodenum merupakan bagian dari usus halus di bagian depan untuk menkreaksikan enzim - enzim dari pankreas. Menurut Akoso (1998) bahwa duodenum merupakan tempat untuk menkreasikan enzim-enzim dan merupakan bagian dari usus halus. Pengukuran panjang duodenum saat di lakukan pengamatan yaitu 14 cm dengan persentase 5.5 %. Deodenum yang normal berkisaran 24 cm. Menuurut Yawanta (2004) bahwa panjang duodenum adalah 24 cm.
Jejenum merupakan bagian tengah dari usus halus, di sebut juga usus kosong. Jejenum akan memecah makanan dengan proses kimiawi oleh enzim dan terjadi penyerapan zat makanan. Menurut  pendapat Yuwanta (2004) bahwa jejenum berfungsi sebagai proses pencernaan dan penyerapan zat makanan yang belum diselesaikan pada duodenum. Pengukuran yang di lakukan di dapatkan hasil panjang jejenum 85 cm. Panjang normal jejenum pada ayam berkisaran antara 58 sampai 74. Menurut Fadillah (2013) bahwa perbedaan ukuran disebabkan aktifitas ayam itu sendiri, banyaknya pakan yang di konsumsi, umur ayam. Ileum merupakan usus penyerapan untuk memperluas permukaan usus dalam penyerapan zat makanan agar lebih sempurna. Menurut Yawanta (2004) bahwa fungsi dari ileum yaitu untuk mengabsorbsi hasil pencernaan agar menjadi lebih sempurna sebelum masuk ke sekum. Panjang hasil pengamatan yaitu 72 cm. Pembatas jejenum dengan ileum di tandai dengan bintil kecil. Menurut Yaman (2010) bahwa pembatas antara Jejunum dan ileum yang ditandai dengan adanya bintil pada permukaan. Pembatas ini juga disebut disebut micele divertikum.
Seka kanan dan seka kiri merupakan  suatu kantong yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon. Pengamatan yang dilakukan di dapatkan hasil bahwa pada sekum kanan dan kiri memiliki panjang 19 cm, ini merupakan panjang yang mendekati normal. Ukuran normal suatu sekum yaitu dengan panjang 20 cm dan diameternya dua kali dari usus halus. Menurut Yuwanta (2004) bahwa sekum terdiri dari dua seka yang memiliki panjang 20 cm. Menurut pendapat Cambell et al. (2004) bahwa fungsi usus besar atau kolon yaitu untuk menyerap kembali air yang telah masuk kedalam saluran pencernaansebagai bahan pelarut.
Usus besar    merupakan tempat untuk absorbsi air kembali sebelum feses dikeluarkan. Pengamatan dan pengukuran yang dilakukan di dapatkan hasil bahwa panjang 9 cm. Ukuran ini kurang normal karenal ukuran normal untuk usus besar adalah 7 cm. Menurut Yuwanta (2004) bahwa panjang pada usus besar memiliki ukuran 7 cm. Fungsi bagian usus besar untuk perombakan partikel pakan yang tidak tercerna. Menurut Fadillah (2013) bahwa fungsi usus besar yaitu untuk merombak partikel pakan yang tidak tercerna oleh mikroorganisme menjadi feses.  
Kloaka yaitu tempat saluran pencernaan terakhir pada ayam yang berupa akskreta. Menurut Yuwanta (2004) bahwa feses dan urine mengalami penyerapan air sebelum dkeluarkan sekitar 72% sampai 75% dan hasil akhir yaitu berupa ekskreta. Pengamatan pada kloaka  di dapat hasil panjang 4 cm dengan persetase 1.6 %. Panjang kloaka ini kurang normal. Kloaka yang normal berkisaran antara 1.5 sampai 3 cm. Menurut Fadillah (2013) Perbedaan panjang pada kloaka ayam ini disebabkan oleh bangsa, pakan, dan kondisi lingkungan.
KESIMPULAN
Saluran pencernaan ruminansia,  monogatrik dan pseudaruminansia memiliki   perbedaan yang sinifikan. Saluran pencernaan pada monogastrik di mulai dari  esofagus, tembolok, proventikuus (perut kelenjar), duodenum, ileum, sekum kanan dan sekum kiri, usus besar, dan berakhir di kloaka. Saluran pencernaan pseudoruminansia terdiri dari mulut, esofagus, tembolok, proventikulus, gizzard, usus halus, seka, dan kloaka. Saluran pencernaan monogastrik terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus halus, sekum, usus besar, dan anus. saluran pencernaan ruminansia terdiri dari mulut, esofagus, rumen, retikulum, omasum, abomasum, usus halus, sekum, usus besar, dan anus. Perbedaan antara   system pencernaan non-ruminansia adalah pada jumlah lambungnya. Saluran pencernaan non-ruminansia hanya mempunyai 1 lambung, sedangkan ruminansia mempunyai lambung yang terdiri dari 4 bagian yang masing-masing mempunyai fungsi masing-masing.
REFERENSI
Akoso, B.T. 1998. Panduan Bagi Petugas Teknis, Penyuluhan dan Peternak. Kanisius, Yogyakarta.
Cambell, N.A, Reece, dan Michell. 2004. Biologi Edisi Kelima. Erlangga, Jakarta.
Campbell. N.A, Reece, J.B dan Lawrence. G. M. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid Tiga. Erlangga, Jakarta.
Fadillah, R. 2013. Super Lengkap Beternak Ayam Broiler. PT Agromedia Pustaka, Jakarta.
Isnaeni, W.2006. Fisiologi Hewan. Kanisius, Yogyakarta.
Kartadisastra, H. R. 1994. Pengolahan Pakan Ayam, Kiat Meningkatkan Keuntungan dalam Agribisnis Unggas. Kanisius, Yogyakarta.
Murwani, R. 2009. Sistim Pencernaan dan Metabolisme pada Monogastrik. Laboratorium Biokimia Dan Nutrisi. UNDIP, Semarang.
Maswarni dan N. Rachman. 2014. Kuda,  Managemen Pemeliharaan dan Pengembangbiakan.Penebar Swadaya, Jakarta.
Noferdiman. 2012. Efek Penggunaan Azolla Microphylla Fermentasi sebagai Pengganti Bungkil Kedele dalam Ransum Terhadap Bobot Organ Pencernaan Ayam Broiler. 14 (1) 49:56
Parakkasi, A.1986. Imu Nutrisi dan Makanan Ternak Monogatrik. Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Priyatna, N. 2011. Beternak dan Bisnis Kelinci Pedaging. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Rasyaf, M. 2008. Panduan Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta.
Rizal, Y. 2006. Ilmu Nutrisi Unggas. Andalas University Press, Padang.
Sihombing, D. T. H. 1997. Ilmu Ternak Babi. Gadjah Mada University Press,Yogykarta.
Sodiq, A dan Abidin, Z. 2008. Meningkatkan Produk Susus Kambing Peranakan Etawa. Agromedia Pustakan, Jakarta.
Soebarinoto. S.Chuzaemi dan  Mashubi. 1991.Ilmu Gizi Ruminansia. Universitas Brawijaya, Malang.
Suprijatna, E., U. Atmomarsono., R. Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas.Penebar Swadaya, Jakarta.
Yaman, M. A. 2010. Ayam Kampung Unggul. . Penebar Swadaya, Jakarta.
Yuwanta, T. 2004. Dasar Ternak Unggas. Kanisius, Yogyakarta. 





















1 komentar:

  1. Sportsbook Review and Sign Up Bonus | Thakasino
    In-depth review of 샌즈카지노 bet365 Sportsbook, including promo codes, deposit methods and the bet365 best bonus offers 메리트카지노 from top sportsbooks.

    BalasHapus

recyling

RECYCLING / PEREMAJAAN   PUYUH Peremajaan dilakukan untuk tujuan sebagai meningkatkan   kontinuitas dan efisien produksi. Biasanya...